Sabtu, 04 Januari 2014

Tidak Sengaja Mewariskan


TIDAK SENGAJA MEWARISKAN
(Antonius & Jeni Tanan)

I hear & I forget
I see & I remember
I do & I understand

Kasus 1:
Dalam sebuah kebaktian minggu seorang pendeta menceritakan pengalamannya melakukan konseling terhadap sepasang kekasih yang merencanakan untuk menikah. Pria dalam pasangan ini ternyata memiliki usia yang lebih muda dari wanita kekasihnya dan ini menjadi sebuah keberatan yang besar bagi ibu dari si pria itu. Sang ibu melakukan lobby kiri kanan, gerilya kiri kanan mencari berbagai dukungan dan upaya mati matian untuk menggagalkan rencana pernikahan ini. Sebaliknya sang ayah tetap tenang-tenang saja dan tidak melakukan apa-apa. Pendeta menyimpulkan dua hal. Pertama keluarga pria ini memiliki ibu yang sangat dominan. Kedua ibu ini begitu dominan sehingga sang ayah dan juga sang anak sudah terbiasa untuk segalanya “diurusin” ibu. Mereka sudah “menikmati” dan merasa nyaman dengan suasana keluarga dimana pihak ibu yang dominan dalam mengatur segalanya. Tidak heran bila ia mencari seorang calon istri yang akan memberikan kenyamanan yang sama yaitu mampu mengatur segalanya dan itu ia temukan dalam sosok pasangan wanita yang lebih tua usianya dari dia. Ternyata sang ibu dengan “tidak sengaja” ia sendiri “melatih” dan membuat si anak memiliki sikap serta melakukan keputusan itu.

Kasus 2:
Seorang ayah aktivis gereja selepas mendengar kasus diatas menceritakan pengalaman pribadinya. Ia mengatakan bahwa 2 hari yang lalu ia menemukan anak lelakinya yang berusia 29 tahun dalam keadaan murung selepas bekerja. Sebagai seorang ayah ia bertanya dan memahami bahwa sang anak baru saja selisih paham dan menjadi sangat marah. Ia kemudian menasehati bahwa kita patut menjadi sabar. Ayah ini begitu terkejut karena kemudian sang anak menjawab:” Ada darah papa sih dalam diriku ini..” Ia sadar bahwa memang ia sendiri bukan seorang penyabar atau tepatnya adalah seorang pemarah. Dalam pekerjaannnya di bengkel bubut ia terbiasa memarahi para pegawainya karena khawatir rugi karena hasil bubut yang keliru. Ternyata secara “tidak sengaja” si ayah ini telah memberi contoh dan mewariskan karakter pemarah pada sang anak.   

Kita semua secara “tidak sengaja” akan melatih dan mewariskan sistim nilai, sikap dan karakter-karakter tertentu melalui kehidupan bersama-sama anak-anak kita. Terdapat 2(dua) sarana penting untuk melakukan transfer “tidak sengaja” ini yaitu pertama sikap dan karakter kita sendiri dan yang kedua melalui kondisi lingkungan rumah yang kita ciptakan. Yang pertama adalah dari sikap dan karakter kita. Sikap yang permanen tentang kejadian sehari-hari serta karakter yang paling dominan dari anggota keluarga yang lebih dewasa akan menjadi “silent trainer” yang hadir tiap hari bagi anak-anak kita.  Contoh bagaimana sikap kita dalam menghadapi masalah dan tantangan. Apakah cenderung pesimis atau optimis? Apakah orang tua menunjukkan sikap positif dan antusias menghadapi masa depan? Ini semua akan kita “wariskan” pada anak-anak kita. Karakter-karakter yang menonjol juga sarana pelatihan yang canggih karena didemonstrasikan setiap hari dengan tekanan yang kuat. Apakah kita pemarah atau penyabar? Apakah kita termasuk orang tua tekun atau cepat bosan? Apakah kita teliti atau sembrono?

Yang kedua adalah lingkungan fisik rumah.  Rumah adalah tempat dan lingkungan yang paling banyak anak-anak temui dan nikmati. Menurut sebuah penelitian hanya 10% dari waktu jaga anak-anak kecil ada di sekolah mereka. Sisanya berada di lingkungan rumah dan publik, yang terbesar dalam rumah tentunya. Rumah dengan segala isinya yang terdiri dari tatanan benda tak bernyawa dengan sendirinya dapat menjadi sebuah tempat yang mengajarkan sesuatu. Setidaknya terdapat 4 peluang bagi lingkungan rumah kita untuk menjadi “silent trainer” bagi anak-anak kita.

Yang pertama, rumah akan memberikan pelajaran tentang kebersihan. Ya rumah kita sendiri adalah contoh  tentang apa itu kebersihan. Rumah yang bersih akan mengajarkan pada anak-anak untuk cinta kebersihan. Rumah yang bersih akan membiasakan anak-anak untuk menikmati kebersihan, mengupayakan kebersihan dan menjaga kebersihan. Bukankah ini berharga bagi masa depannya?

Yang kedua, rumah yang teratur rapi mengajarkan akan kerapihan dan keteraturan. Anak-anak setiap hari akan mendapatkan pengalaman visual rumah yang tertata rapih dan juga mengalami  manfaat rutin dengan adanya keteraturan. Ketika setiap barang kita letakkan dalam kelompok dan di tempat yang tertentu maka ini akan menciptakan  kerapihan dan keteraturan dan sebagai akibatnya setiap anggota keluarga ketika mencari suatu barang mereka mudah menemukannya. Suasana ini akan membuat anak-anak tumbuh menjadi sosok yang terbiasa dan menghargai keteraturan dan kerapihan

Yang ketiga, rumah menjadi sebuah “galeri” yang mengajarkan tentang seni dan kreativitas. Adakah anda memiliki lukisan-lukisan, benda-benda seni atau barang antik. Pernahkan kita mengambil waktu untuk menatanya atau menata ulang sehingga rumah kita walau bukan galeri tampak artistik? Pernahkan anda berpikir tentang warna-warna dinding yang yang meberikan inspirasi estetika? Barangkali ada baiknya kita memikirkan warna-warna berbeda selain putih atau juga barangkali mengganti cat dinding dengan wall paper.

Yang keempat rumah dapat menjadi medan eksplorasi dan eksperimen anak-anak. Sebuah ruangan khusus, sudut khusus atau tempat khusus bagi anak-anak untuk mendapatkan mainan yang mendidik akan memudahkan mereka untuk melakukan eksplorasi kapan saja. Alangkah baiknya bila alat gambar dan media gambar berada di tempat tertentu yang kapan saja bisa diakses. Alangkah indahnya bila kumpulan CD atau cassete musik yang bermutu berada dalam jangkauan mata anak-anak sehingga setiap hari kita terdorong untuk mendengarkannya.  Sebuah lemari khusus yang berisi buku di tempat ia paling sering berada akan mendorong anak-anak membaca setiap hari.

Apakah yang selama ini secara “tidak sengaja” sedang melatih dan akan mewariskan sesuatu kepada anak-anak anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar