TIDAK
SENGAJA MEWARISKAN
(Antonius & Jeni
Tanan)
I hear & I forget
I see & I remember
I do & I understand
Kasus
1:
Dalam
sebuah kebaktian minggu seorang pendeta menceritakan pengalamannya melakukan
konseling terhadap sepasang kekasih yang merencanakan untuk menikah. Pria dalam
pasangan ini ternyata memiliki usia yang lebih muda dari wanita kekasihnya dan
ini menjadi sebuah keberatan yang besar bagi ibu dari si pria itu. Sang ibu
melakukan lobby kiri kanan, gerilya kiri kanan mencari berbagai dukungan dan upaya
mati matian untuk menggagalkan rencana pernikahan ini. Sebaliknya sang ayah
tetap tenang-tenang saja dan tidak melakukan apa-apa. Pendeta menyimpulkan dua
hal. Pertama keluarga pria ini memiliki ibu yang sangat dominan. Kedua ibu ini
begitu dominan sehingga sang ayah dan juga sang anak sudah terbiasa untuk
segalanya “diurusin” ibu. Mereka sudah “menikmati” dan merasa nyaman dengan suasana
keluarga dimana pihak ibu yang dominan dalam mengatur segalanya. Tidak heran
bila ia mencari seorang calon istri yang akan memberikan kenyamanan yang sama
yaitu mampu mengatur segalanya dan itu ia temukan dalam sosok pasangan wanita
yang lebih tua usianya dari dia. Ternyata sang ibu dengan “tidak sengaja” ia
sendiri “melatih” dan membuat si anak memiliki sikap serta melakukan keputusan
itu.
Kasus
2:
Seorang
ayah aktivis gereja selepas mendengar kasus diatas menceritakan pengalaman
pribadinya. Ia mengatakan bahwa 2 hari yang lalu ia menemukan anak lelakinya
yang berusia 29 tahun dalam keadaan murung selepas bekerja. Sebagai seorang
ayah ia bertanya dan memahami bahwa sang anak baru saja selisih paham dan
menjadi sangat marah. Ia kemudian menasehati bahwa kita patut menjadi sabar.
Ayah ini begitu terkejut karena kemudian sang anak menjawab:” Ada darah papa
sih dalam diriku ini..” Ia sadar bahwa memang ia sendiri bukan seorang penyabar
atau tepatnya adalah seorang pemarah. Dalam pekerjaannnya di bengkel bubut ia
terbiasa memarahi para pegawainya karena khawatir rugi karena hasil bubut yang
keliru. Ternyata secara “tidak sengaja” si ayah ini telah memberi contoh dan mewariskan
karakter pemarah pada sang anak.
Kita semua
secara “tidak sengaja” akan melatih dan mewariskan sistim nilai, sikap dan
karakter-karakter tertentu melalui kehidupan bersama-sama anak-anak kita. Terdapat
2(dua) sarana penting untuk melakukan transfer “tidak sengaja” ini yaitu pertama
sikap dan karakter kita sendiri dan yang kedua melalui kondisi lingkungan rumah
yang kita ciptakan. Yang pertama adalah dari sikap dan karakter kita. Sikap
yang permanen tentang kejadian sehari-hari serta karakter yang paling dominan
dari anggota keluarga yang lebih dewasa akan menjadi “silent trainer” yang
hadir tiap hari bagi anak-anak kita.
Contoh bagaimana sikap kita dalam menghadapi masalah dan tantangan.
Apakah cenderung pesimis atau optimis? Apakah orang tua menunjukkan sikap
positif dan antusias menghadapi masa depan? Ini semua akan kita “wariskan” pada
anak-anak kita. Karakter-karakter yang menonjol juga sarana pelatihan yang
canggih karena didemonstrasikan setiap hari dengan tekanan yang kuat. Apakah
kita pemarah atau penyabar? Apakah kita termasuk orang tua tekun atau cepat
bosan? Apakah kita teliti atau sembrono?
Yang kedua
adalah lingkungan fisik rumah. Rumah
adalah tempat dan lingkungan yang paling banyak anak-anak temui dan nikmati.
Menurut sebuah penelitian hanya 10% dari waktu jaga anak-anak kecil ada di
sekolah mereka. Sisanya berada
di lingkungan rumah dan publik, yang terbesar dalam rumah tentunya. Rumah
dengan segala isinya yang terdiri dari tatanan benda tak bernyawa dengan
sendirinya dapat menjadi sebuah tempat yang mengajarkan sesuatu. Setidaknya
terdapat 4 peluang bagi lingkungan rumah kita untuk menjadi “silent trainer”
bagi anak-anak kita.
Yang pertama, rumah akan memberikan pelajaran
tentang kebersihan. Ya rumah kita
sendiri adalah contoh tentang apa itu
kebersihan. Rumah yang bersih akan mengajarkan pada anak-anak untuk cinta
kebersihan. Rumah yang bersih akan membiasakan anak-anak untuk menikmati
kebersihan, mengupayakan kebersihan dan menjaga kebersihan. Bukankah ini
berharga bagi masa depannya?
Yang kedua, rumah yang teratur rapi
mengajarkan akan kerapihan dan
keteraturan. Anak-anak setiap hari akan mendapatkan pengalaman visual rumah
yang tertata rapih dan juga mengalami
manfaat rutin dengan adanya keteraturan. Ketika setiap barang kita
letakkan dalam kelompok dan di tempat yang tertentu maka ini akan
menciptakan kerapihan dan keteraturan
dan sebagai akibatnya setiap anggota keluarga ketika mencari suatu barang
mereka mudah menemukannya. Suasana ini akan membuat anak-anak tumbuh menjadi
sosok yang terbiasa dan menghargai keteraturan dan kerapihan
Yang ketiga, rumah menjadi sebuah “galeri”
yang mengajarkan tentang seni dan
kreativitas. Adakah anda memiliki lukisan-lukisan, benda-benda seni atau
barang antik. Pernahkan kita mengambil waktu untuk menatanya atau menata ulang
sehingga rumah kita walau bukan galeri tampak artistik? Pernahkan anda berpikir
tentang warna-warna dinding yang yang meberikan inspirasi estetika? Barangkali
ada baiknya kita memikirkan warna-warna berbeda selain putih atau juga
barangkali mengganti cat dinding dengan wall paper.
Yang keempat rumah dapat menjadi medan eksplorasi dan eksperimen anak-anak.
Sebuah ruangan khusus, sudut khusus atau tempat khusus bagi anak-anak untuk
mendapatkan mainan yang mendidik akan memudahkan mereka untuk melakukan
eksplorasi kapan saja. Alangkah baiknya bila alat gambar dan media gambar
berada di tempat tertentu yang kapan saja bisa diakses. Alangkah indahnya bila
kumpulan CD atau cassete musik yang bermutu berada dalam jangkauan mata
anak-anak sehingga setiap hari kita terdorong untuk mendengarkannya. Sebuah lemari khusus yang berisi buku di
tempat ia paling sering berada akan mendorong anak-anak membaca setiap hari.
Apakah yang selama ini secara “tidak
sengaja” sedang melatih dan akan mewariskan sesuatu kepada anak-anak anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar