Setiap Ayah “seharusnya” adalah seorang Guru TK (Taman Kanak)
Saya adalah seorang
ayah dari anak-anak yang berusia 3 tahun dan 6 tahun, tinggal di Metropolitan
Jakarta. Saya berangkat pagi sebelum pukul 08.00 dan tiba di rumah di sekitar
jam yang sama (bila tidak ada rapat tambahan) di malam hari. Itulah resiko
hidup di Jakarta, waktu saya di jalan raya bisa lebih banyak dari waktu saya
bersama anak-anak saya tiap hari. Sebagai seorang ayah yang sibuk namun ingin
peduli anak-anak maka tentunya saya cukup terkejut ketika menyadari 2 fakta
berikut ini. Pertama kenyataan bahwa otak anak-anak berkembang pesat di usia
dini. Masa kanak kanak adalah masa ketika seseorang mengalami pertumbuhan otak
yang sangat pesat. Joan Beck dalam buku yang berjudul “Meningkatkan Kecerdasan
Anak” mengatakan “Pada umur 4 tahun anak telah
mencapai separuh dari kemampuan kecerdasannya, dan pada umur 8 tahun ia
mencapai 80%. Setelah umur 8 tahun, tanpa melihat bentuk pendidikan dan
lingkungan yang diperoleh, kemampuan kecerdasannya hanya dapat diubah sebanyak
20%. Saya simpulkan anak-anak saya sekarang berada dalam masa emas bagi
pertumbuhan otaknya dan tentunya saya tidak boleh melewatkan kesempatan itu.
Kedua kenyataan
bahwa hanya 10% dari waktu jaga anak-anak berada di sekolah. Ya nak-anak kita
yang masuk di Taman kanak hanya belajar secara formal selama 10% dari waktu
jaga mereka. Terlalu sedikit bila dibandingkan dengan rasa ingin tahu dan daya
serap yang mereka miliki. Saya berpikir, bila saya ingin anak-anak menikmati
pertumbuhan yang maksimal maka suasana sekolah tersebut seharusnya tidak usai
di jam bubar sekolah. Ini berarti saya, istri saya dan pengasuh (baby sitter)
dan juga pembantu di rumah saya patut (sedikit atau banyak) memiliki keahliaan
seorang guru TK. Nah lho…? Tim “rumah tangga” ini harus mampu mengisi jam-jam
dan hari-hari anak-anak saya paling tidak sampai dengan usia 8 tahun dengan
sebaik mungkin dan seproduktif mungkin. Apa yang harus saya lakukan..?
Saya memutuskan
untuk mulai dari diri saya sendiri, saya mulai berpikir dan juga merenung,
kalau saya ingin jadi seperti guru TK apa saja yang perlu saya miliki? Bagi saya
seorang guru TK perlu memahami dan memiliki 3 macam K yaitu memahami konsep
pendidikan anak-anak, selanjutnya mengusai komunikasi anak dan akhirnya
adalah mampu merangsang kreativitas anak.
Pertama saya
harus memahami konsep pendidikan
anak-anak. Untuk ini saya harus akui bahwa saya nihil pengetahuan dalam hal
ini. Pemahaman saya tentang pendidikan anak-anak hanyalah sejauh pengalaman
masa lalu dan sehari-hari saja lalu sedikit-sedikit berita dari koran. Ternyata
modal utama saya jadi ayah lebih karena mau daripada mampu. Oleh karena itu saya
memutuskan untuk berubah, pertama saya belajar dari buku-buku, kedua saya
belajar dari orang lain melalui percakapan atau seminar dan ketiga saya belajar
dari anak-anak saya sendiri karena mau tidak mau saya harus dari pengalaman
yang trial and error. Untuk itu saya mengorbankan sebagian waktu baca koran,
baca majalah, nonton TV atau VCD dan sebagian besar waktu hura-hura. Berat juga
sih namun sebuah pengorbanan yang pantas saya kira.
Kedua saya harus
memahami bagaimana melakukan komunikasi
dengan ank-anak dengan baik. Saya juga harus mengaku bahwa dunia saya adalah
dunia orang dewasa dan di dunia inipun saya kadang mengalami miscommunication. Saya sungguh menyadari
bahwa komunikasi anak-anak ternyata tidak sederhana. Saya juga nihil dalam hal
ini. Apa yang harus saya lakukan kembali saya harus belajar baik-baik dan yang
paling utama sesering mungkin belajar dari pengalaman langsung atau rajin
berkomunikasi dengan anak. Saya menantang diri saya sendiri berapa lama
anak-anak saya dapat “tahan” bersama saya, ayahnya, baik untuk ngobrol, belajar
sambil bermain atau bercanda tanpa kehadiran pengasuhnya. Pernahkah anda
mencobanya?
Ketiga saya
harus tahu bagaimana merangsang kreativitas
anak-anak. Untuk yang ini saya cukup beruntung, dunia pekerjaan saya sangat
menuntut adanya kreativitas dan saya sendiri gemar melakukannya. Saya pernah
mengajak anak-anak saya untuk menggambar
di sehelai kertas gambar dan menggunakan berbagai media seperi crayon, cat air,
kancing bekas, guntingan kain dan juga daun kering. Saya pernah mengajak anak
saya yang sulung untuk memcoba sendiri apa yang akan terjadi bila minyak
bercampur air. Saya menyedikan tempat khusus di kamar kerja saya untuk berbagai
kegiatan kreativitas. Disitu ada kertas gambar, crayon, spidol, gunting,
buku-buku dan permainan edukasi. Mereka bisa bermain, berkarya dan saya sendiri
bisa menikmati jam pribadi saya juga. Lumayan kan? Saya bisa menikmati buku-buku dan
juga menulis artikel tanpa terganggu
sementara mereka juga belajar berkreasi.
Nah sekarang
bagaimana dengan anda, sudahkah anda jadi seorang guru Taman Kanak untuk
anak-anak anda?