Sabtu, 04 Januari 2014

Ayah adalah Guru TK


Setiap Ayah “seharusnya” adalah seorang Guru TK (Taman Kanak)

 (Antonius Tanan)

 

Saya adalah seorang ayah dari anak-anak yang berusia 3 tahun dan 6 tahun, tinggal di Metropolitan Jakarta. Saya berangkat pagi sebelum pukul 08.00 dan tiba di rumah di sekitar jam yang sama (bila tidak ada rapat tambahan) di malam hari. Itulah resiko hidup di Jakarta, waktu saya di jalan raya bisa lebih banyak dari waktu saya bersama anak-anak saya tiap hari.    Sebagai seorang ayah yang sibuk namun ingin peduli anak-anak maka tentunya saya cukup terkejut ketika menyadari 2 fakta berikut ini. Pertama kenyataan bahwa otak anak-anak berkembang pesat di usia dini. Masa kanak kanak adalah masa ketika seseorang mengalami pertumbuhan otak yang sangat pesat. Joan Beck dalam buku yang berjudul “Meningkatkan Kecerdasan Anak” mengatakan  “Pada umur 4 tahun anak telah mencapai separuh dari kemampuan kecerdasannya, dan pada umur 8 tahun ia mencapai 80%. Setelah umur 8 tahun, tanpa melihat bentuk pendidikan dan lingkungan yang diperoleh, kemampuan kecerdasannya hanya dapat diubah sebanyak 20%. Saya simpulkan anak-anak saya sekarang berada dalam masa emas bagi pertumbuhan otaknya dan tentunya saya tidak boleh melewatkan kesempatan itu.

Kedua kenyataan bahwa hanya 10% dari waktu jaga anak-anak berada di sekolah. Ya nak-anak kita yang masuk di Taman kanak hanya belajar secara formal selama 10% dari waktu jaga mereka. Terlalu sedikit bila dibandingkan dengan rasa ingin tahu dan daya serap yang mereka miliki. Saya berpikir, bila saya ingin anak-anak menikmati pertumbuhan yang maksimal maka suasana sekolah tersebut seharusnya tidak usai di jam bubar sekolah. Ini berarti saya, istri saya dan pengasuh (baby sitter) dan juga pembantu di rumah saya patut (sedikit atau banyak) memiliki keahliaan seorang guru TK. Nah lho…? Tim “rumah tangga” ini harus mampu mengisi jam-jam dan hari-hari anak-anak saya paling tidak sampai dengan usia 8 tahun dengan sebaik mungkin dan seproduktif mungkin. Apa yang harus saya lakukan..?

Saya memutuskan untuk mulai dari diri saya sendiri, saya mulai berpikir dan juga merenung, kalau saya ingin jadi seperti guru TK apa saja yang perlu saya miliki? Bagi saya seorang guru TK perlu memahami dan memiliki 3 macam K yaitu memahami konsep pendidikan anak-anak, selanjutnya mengusai komunikasi anak dan akhirnya adalah mampu merangsang kreativitas anak.

Pertama saya harus memahami konsep pendidikan anak-anak. Untuk ini saya harus akui bahwa saya nihil pengetahuan dalam hal ini. Pemahaman saya tentang pendidikan anak-anak hanyalah sejauh pengalaman masa lalu dan sehari-hari saja lalu sedikit-sedikit berita dari koran. Ternyata modal utama saya jadi ayah lebih karena mau daripada mampu. Oleh karena itu saya memutuskan untuk berubah, pertama saya belajar dari buku-buku, kedua saya belajar dari orang lain melalui percakapan atau seminar dan ketiga saya belajar dari anak-anak saya sendiri karena mau tidak mau saya harus dari pengalaman yang trial and error. Untuk itu saya mengorbankan sebagian waktu baca koran, baca majalah, nonton TV atau VCD dan sebagian besar waktu hura-hura. Berat juga sih namun sebuah pengorbanan yang pantas saya kira.

Kedua saya harus memahami bagaimana melakukan komunikasi dengan ank-anak dengan baik. Saya juga harus mengaku bahwa dunia saya adalah dunia orang dewasa dan di dunia inipun saya kadang mengalami miscommunication. Saya sungguh menyadari bahwa komunikasi anak-anak ternyata tidak sederhana. Saya juga nihil dalam hal ini. Apa yang harus saya lakukan kembali saya harus belajar baik-baik dan yang paling utama sesering mungkin belajar dari pengalaman langsung atau rajin berkomunikasi dengan anak. Saya menantang diri saya sendiri berapa lama anak-anak saya dapat “tahan” bersama saya, ayahnya, baik untuk ngobrol, belajar sambil bermain atau bercanda tanpa kehadiran pengasuhnya. Pernahkah anda mencobanya? 

Ketiga saya harus tahu bagaimana merangsang kreativitas anak-anak. Untuk yang ini saya cukup beruntung, dunia pekerjaan saya sangat menuntut adanya kreativitas dan saya sendiri gemar melakukannya. Saya pernah mengajak anak-anak  saya untuk menggambar di sehelai kertas gambar dan menggunakan berbagai media seperi crayon, cat air, kancing bekas, guntingan kain dan juga daun kering. Saya pernah mengajak anak saya yang sulung untuk memcoba sendiri apa yang akan terjadi bila minyak bercampur air. Saya menyedikan tempat khusus di kamar kerja saya untuk berbagai kegiatan kreativitas. Disitu ada kertas gambar, crayon, spidol, gunting, buku-buku dan permainan edukasi. Mereka bisa bermain, berkarya dan saya sendiri bisa menikmati jam pribadi saya juga.   Lumayan kan? Saya bisa menikmati buku-buku dan juga menulis artikel  tanpa terganggu sementara mereka juga belajar berkreasi.

Nah sekarang bagaimana dengan anda, sudahkah anda jadi seorang guru Taman Kanak untuk anak-anak anda?

Lingkungan Rumah Yang Mendidik


Mendidik Melalui Lingkungan Fisik Rumah

 (Antonius Tanan)

Anak-anak saya menghabiskan waktunya di rumah lebih banyak tanpa saya. Rumah adalah tempat dan lingkungan yang paling banyak mereka temui dan mereka nikmati. Menurut sebuah penelitian mengatakan bahwa hanya 10% dari waktu jaga anak-anak kecil ada di sekolah mereka. Sisanya berada di lingkungan rumah dan publik, yang terbesar dalam rumah tentunya. Saya merenungkan dapatkah rumah dengan segala isinya yang terdiri dari tatanan benda tak bernyawa dengan sendirinya menjadi sebuah tempat yang mengajarkan sesuatu? Saya menemukan setidaknya 4 peluang.

Yang pertama adalah pelajaran tentang kebersihan. Ya rumah kita sendiri adalah contoh  tentang apa itu kebersihan. Rumah yang bersih akan mengjarkan pada anak-anak untuk cinta kebersihan, rumah itu akan membiasakan anak-anak untuk menikmati kebersijhna, mengupayakan kebersihan dan menjaga kebersihan. Bukankah ini berharga bagi masa depannya?

Yang kedua, rumah yang teratur rapi mengajarkan akan kerapihan dan keteraturan. Anak-anak setiap hari akan mendapatkan pengalaman visual rumah yang tertata rapih dan juga mengalami  manfaat adanya keteraturan. Ketika setiap barang kita letakkan dalam kelompok dan di tempat yang tertentu maka ini akan membuat suasana rapih tercipta. Ketika anak-anak mencari suatu barang mereka mudah menemukannya karena setiap barang yang ada di rumah memiliki tempat penyimpanan.  Suasana ini akan membuat anak-anak tumbuh menjadi sosok yang terbiasa dengan keteraturan dan kerapihan

Yang ketiga, rumah menjadi sebuah “galeri” yang mengajarkan tentang seni dan kreativitas. Adakah anda memiliki lukisan-lukisan, benda-benda seni atau barang antik. Pernahkan kita mengambil waktu untuk menatanya atau menata ulang sehingga rumah kita walau bukan galeri tampak artistik? Pernahkan anda berpikir tentang warna-warna dinding yang yang meberikan inspirasi estetika? Barangkali ada baiknya kita memikirkan warna-warna berbeda selain putih atau juga barangkali mengganti can dinding dengan wall paper.

Yang keempat rumah dapat menjadi medan eksplorasi dan eksperimen anak-anak. Sebuah ruangan khusus, sudut khusus atau tempat khusus bagi nak-anak untuk mendapatkan mainan yang mendidik akan memudahkan mereka untuk melakukan eksplorasi kapan saja. Alangkah baiknya bila alat gambar dan media gambar berada di tempat tertentu yang kapan saja bisa diakses. Alangkah indahnya bila kumpulan CD atau cassete musik yang bermutu berada dalam jangkauan mata anak-anak sehingga setiap hari kita terdorong untuk mendengarkannya.  Sebuah lemari khusus yang berisi buku di tempat ia paling sering berada akan mendorong anak-anak membaca setiap hari. 

Cerita Ayah: Kemurahan Hati


Kisah GEORGE BOLDT: Kemurahan Hati Yang Membawa Berkah

George Bolt adalah seorang pemuda yang bekerja sebagai petugas administrasi di sebuah hotel di Amerika Serikat. Ia adalah seorang pemuda yang memiliki karakter murah hati, ia tidak ragu mengulurkan bantuan dan tidak mengharapkan imbalan dari mereka yang ditolongnya. Malam itu ketika George sedang bekerja, di sebuah malam dengan hujan badai, sepasang orang tua yang  tampak sederhana masuk ke dalam hotel dan mencari sebuah kamar untuk mereka berdua menginap.

Malam itu ternyata semua kamar hotel sudah penuh terisi, bukan saja di hotel tempat George bekerja tapi juga di hotel-hotel lain. Kakek dan nenek itu tentunya merasa sangat khawatir, mereka tidak tahu dimana mereka harus tidur malam itu.  George merasa iba dan ia berkata “Saya tidak dapat membayangkan anda berdua keluar dari hotel ini dan berada dalam hujan badai….”  Ia kemudian menawarkan kamar yang biasa ia pakai sebagai karyawan hotel yang berdinas di malam hari. Ia berkata:” Saya sendiri memiliki sebuah kamar dinas dalam hotel ini, tidak sebagus kamar hotel tapi cukup bersih. Saya tidak akan menggunakan kamar itu malam ini karena sepanjang malam saya harus bekerja hingga pagi……...” Sepasang kakek nenek ini merasa sungkan  tawaran kebaikan George namun karena tidak ada jalan lain mereka menerimanya.

Keesokan harinya, kakek dan nenek itu kembali menemui  George dan mereka ingin membayar kepada George biaya kamar hotel yang mereka tempati malam tadi. Mereka sangat terkejut karena George menolak menerima uang dari mereka. George berkata:”Kamar yang dipakai kemarin bukan kamar yang kami jual kepada para tamu, itu adalah kamar untuk karywan hotel...” Geoge menjelaskan bahwa ia hanya ingin menolong kakek dan nenek ini. Ia memang membutuhkan pendapatan tambahan oleh karena itu ia berusaha bekerja dengan lebih keras tapi bukan dengan cara menerima uang yang bukan haknya. Sepasang kakek dan nenek ini tentu saja sangat terkejut melihat kejujuran dan kebaikan George lalu  mereka mengatakan:”Anda adalah contoh seorang karyawan hotel yang diinginkan oleh banyak pemilik hotel. Mungkin suatu kali aku akan membangun sebuah hotel untuk mu…” George hanya tersenyum dan memandang ucapan itu sebagai sebuah lelucon saja.

Waktu terus berlalu, George bekerja seperti biasa di hotel. Suatu hari George terkejut karena menerima sebuah surat penting dari kakek dan nenek yang pernah ia tolong . Di dalam surat itu terdapat sebuah tiket untuk  perjalanan pesawat pulang pergi dari kotanya ke New York.  George segera terbang ke New York dan mencari alamat yang ada dalam surat itu. Akhirnya ia berhasil menemukan sebuah gedung baru nan megah di sudut jalan pertemuan Fifth Avenue dan Thirty Fourth Street, disanalah ia bertemu kembali dengan kakek yang pernah ia tolong di tengah malam yang penuh dengan hujan badai itu.  dimana terletak sebuah gedung hotel yang baru dan sangat megah. Kakek ini berkata:”Apakah engkau masih ingat ketika aku mengatkan bahwa mungkin suatu kali aku akan membangun sebuah hotel untuk kau kelola dan inilah hotel yang pernah aku janjikan itu..” George sangat terkejut sekali ia berkata:”Ini tentunya lelucon bukan? Siapa anda sesungguhnya?” Dengan tersenyum kakek ini berkata:”Saya adalah William Waldorf Astor dan saya tidak mengatakan lelucon, anda adalah orang yang saya pilih untuk mengelola hotel baru dan megah ini..”. William Waldorf Astor adalah seorang yang sangat kaya, ia adalah pemilik hotel mewah Waldorf Astor di jantung kota New York pada masa itu. Akhirnya George C.Boldt menjadi manajer di hotel yang megah dan terkenal itu. Ini tentuny sebuah hasil yang manis dari kemurahan dan kebaikan bukan?  


Dimana Belajar Jadi Orang Tua


DIMANA  ANDA BELAJAR JADI ORANG TUA….?
Antonius Tanan: Seorang ayah yang masih belajar

q  Pendidikan seorang anak harus dimulai setidaknya seratus tahun sebelum dia dilahirkan (Lady Bird Johnson)


Memiliki sebuah piano bukan berarti anda adalah seorang pianis, setujukah anda dengan pendapat ini? Berikutnya sepakatkah anda dengan pendapat Winston Churchill yang mengatakan: “Mempunyai anak bukan berarti anda langsung menjadi orang tua sama seperti mempunyai piano tidak akan membuat anda menjadi seorang pianis”. Memiliki seorang anak dan membesarkan anak memang adalah dua hal yang berbeda.

Kebanyakan dari kita (termasuk saya), merasa bahwa menjadi ayah cukup belajar dari pengalaman sendiri, pengetahuan dari media massa dan pengamatan sehari-hari di sekitar kita setelah itu ya mempraktekkan secara coba-coba. Padahal kalau kita ditanya keberhasilan dalam karir dan keberhasilan dalam keluarga, mana yang lebih penting? Rasanya hampir semua kita akan mengatakan bahwa keberhasilan keluarga lebih penting dari keberhasilan karir. Tapi faktanya investasi waktu, kecakapan dan enersi  yang kita sediakan untuk merintis keberhasilan karir sepertinya jauh lebih besar dibandingkan dengan investasi kita untuk mendidik anak dalam keluarga. Sebagai contoh adalah saya sendiri, saya kuliah, kursus dan jadi kutu buku demi karir saya namun saya jadi malu kalau membandingkannya dengan investasi waktu saya untuk belajar jadi ayah yang baik.

Saya, seperti kebanyakan kita menjadi ayah tanpa persiapan. Saya take it for granted bahwa saya siap jadi ayah. Tanpa persiapan yang cukup telah saya minta kepada  Tuhan tanggung jawab seorang ayah. Saya ingat tahun-tahun ketika saya berlutut meminta seorang anak kepada Tuhan. Yang saya bayangkan barangkali hanya lucunya seorang bayi dan anak balita. Tidak terpikir oleh saya untuk berdoa agar Tuhan mempersiapkan saya jadi ayah yang sesungguhnya.

Seorang nasi telah jadi bubur, apakah anda senasib dengan saya? Bila ya mari kita berbincang dari berbagi solusi. Better late than never … lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukankah begitu ? Inilah yang telah saya lakukan untuk mengkompensasi ketidak tahuan dan kecerobohan saya yang lalu. Pertama saya mencari informasi sebanyak mungkin apakah itu lewat internet, buku, majalah, koran ataupun bertanya kepada orang yang lebih tahu dan berpengalaman. Bila saya bertemu dengan sepasang orang tua yang saya anggap berhasil mendidik anak saya mencoba menemukan cara untuk bertanya dan belajar dari pengalaman mereka.

Kedua, saya menyediakan waktu pasti setiap hari untuk bersama dan bergaul dengan anak-anak saya. Saya berupaya memanfaatkan waktu dan bukan hanya mengisi waktu. Saya membuat rencana dan menciptakan tantangan-tantangan dalam diri saya untuk jadi guru, trainer dan mentor bagi anak-anak saya. Harapan saya sederhana saja yaitu kalau suatu kali anak-anak saya ditanya siapakah laki-laki dewasa yang paling berpengaruh dalam hidup mereka maka saya berharap (dan berdoa) agar dengan jujur dan tulus mereka menyebut nama saya.

Ketiga, saya terus belajar membangun keluarga yang dekat satu sama lain. Believe it or not... saya sekeluarga tidur satu kamar bareng-bareng. Ya saya, istri, anak lelaki 16 tahun dan anak perempuan 13 tahun. Mereka masing-masing punya kamar sendiri tapi malam hari kita semua keroyokan di kamar saya dan istri. Saya sadar suatu kali mereka akan berada di kamar masing-masing ketika usia mereka makin menanjak dewasa. Nah mumpung mereka masih mau ya sekarang bareng-bareng saja.

Keempat, saya dan/atau istri menyempatkan waktu untuk hadir dalam kursus, seminar atau pelatihan yang berkenaan dengan pendidikan anak. Tahun 2007 saya memutuskan untuk menempuh Pendidikan S2 saya yang ketiga dari University of Connecticut menempuh program studi tentang Psikologi Pendidikan dan alasan utama saya belajar lagi adalah karena ingin jadi mentor yang baik untuk anak-anak saya. Saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk memberikan yang terbaik dari diri saya untuk anak-anak saya. Mereka sangat pantas untuk mendapatkan waktu terbaik, talenta terbaik dan juga konsentrasi yang terbaik dari saya. Sekarang saya sedang berupaya berlari sekencang mungkin mengejar ketinggalan saya. Inilah gara-gara ingin berkeluarga dan memiliki anak-anak tanpa “ijazah” yang cukup.

Kelima saya berdoa tiap hari kiranya TUHAN Maha Pengasih memimpin dan menolong saya. Saya tahu bahwa ada banyak hal yang tak saya ketahui. Apa saja yang ada di pikiran anak-anak saya saya tak bisa memahami seluruhnya. Apa saja yang berkecamuk di hatinya saya pikir tidak semuanya mereka sampaikan kepada kami orang tuanya. Nah inilah yang membuat kita semua pantas berdoa tiap hari untuk anak-anak kita.

By the way, sekian tahun yang lalu saya pernah bertanya kepada anak saya yang tertua:”Kalau ayah yang hebat itu nilainya 10, maka papimu itu dapat nilai berapa?”. Anak saya tidak langsung menjawab, hati saya jadi sedikit cemas. Lalu dengan santai ia berkata:”Dapat 8 deh..”. Wah lega juga walau bukan ranking 1 namun angka 8 kan lolos ujian bukan? Apapun itu, peluang untuk memperbaiki diri masih lebar terbuka.