PUTRI KEBERUNTUNGAN
(Antonius Tanan)
Alam Lestari adalah sebuah kota
kecil yang terletak di sebuah kaki gunung. Di kota kecil yang menyenangkan itulah tinggal
keluarga pak Gusar dan keluarga pak Girang. Pak Gusar adalah penarik delman
yang sudah berpengalaman belasan tahun. Entah dari mana ia memperoleh nama
Gusar itu, tapi memang pak Gusar gampang gusar. Ia kerap gusar kepada kuda
miliknya, gusar kepada sesama penarik delman dan juga gusar kepada para
pelanggannya. Sebaliknya pak Girang adalah seorang yang selalu girang walau ia
hanya seorang petani sederhana. Lihatlah wajahnya yang tampak bulat, matanya
yang ceria dan bibirnya yang selalu menampakkan seyum.
Suatu hari pak Girang menemui
pak Gusar ia ingin belajar bagaimana menjadi seorang penarik delman.: “Sekali
jadi penarik delman, jangan takut bertindak keras pada binatang kuda, binatang
ini hanya bekerja keras kalau sering dicambuk...” Pak Gusar melanjutkan:”
Penumpang delman selalu membawa masalah, mereka membuat delman kita kotor,
mereka cerewet menawar ongkos, mereka meminta kita menunggu dan mengangkat
barang-barangnya, tidak perlu terlalu ramah kepada mereka..” Oh, pak Girang terkejut
dan merasa aneh.
Sementara mereka berbincang seorang tua berjalan perlahan mendekati
mereka dengan wajah bingung dan letih. Pakaiannya terlalu rapih kalau disebut
pengemis namun jelas pak Tua sedang bermasalah. Pak Gusar berkata sambil
berbisik:”Jangan lihat terlalu lama pak Tua itu nanti ia minta tolong dan kita
akan repot...” Tapi pak Girang tidak
menghiraukan ia langsung beranjak mendekati pak Tua. Karena pak Girang bergerak
melangkah maka pak Gusar juga berjalan mengikuti.
Ternyata pak Tua sedang
membutuhkan segelas air untuk minum obat. Pak Girang segera menawarkan botol air
miliknya sendiri, benar saja sehabis minum dan memakan obatnya pak Tua langsung
tampak segar ia sangat berterima kasih: “Aku ingin berterima kasih dengan
menyampaikan sebuah rahasia. Dalam waktu dekat ini akan berkunjung ke kota ini Putri Keberuntungan.
Ia disebut Putri Keberuntungan karena ia selalu membuat orang yang berjumpa
dengannya menjadi beruntung dan ia memiliki 100 pengawal yang sering menyamar. Mereka
selalu mencari orang-orang baik hati dan murah hati seperti kalian yang sigap
melayani sesama tanpa harus diminta atau dituntut...”
Pak Gusar sangat bersemangat mendengar
hal itu, untuk pertama kali setelah sekian lama ia tampak sungguh bersemangat. Keesokan
paginya pak Gusar langsung membawa delmannya ke batas kota, ia ingin jadi orang
pertama bertemu dengan Putri keberuntungan. Ia menunggu dan menunggu, banyak
orang lalu lalang di depan delman, sebagian memintanya untuk mengantar ke suatu
tempat tapi ia menolak tawaran-tawaran itu.
Berbeda dengan pak Gusar maka Pak
Girang berpikir: “Aku akan bangun lebih pagi, mencari penumpang delman sebanyak
mungkin, barangkali saja salah satu diantaranya adalah Putri Keberuntungan atau
para pengawalnya.....” Keesokan harinya ia bangun lebih pagi dan pulang lebih
larut, ia memutuskan untuk bekerja lebih lama dan lebih keras. Pak Girang juga berpikir:”Aku
juga harus bersikap lebih ramah dan baik hati kepada para penumpang delman,
jangan-jangan mereka para pengawal Putri
Keberuntungan..”. Sekarang setiap kali Pak Girang bertemu pelanggan ia
melayani pelanggan dengan semangat lebih besar dengan segala keramah tamahan. Tidak
mengherankan bila kemudian pak Girang memiliki banyak sekali pelanggan dan
menjadi pemilik delman paling terkenal di Alam Lestari.
Bagaimana dengan pak Gusar?
Ternyata hati pak Gusar makin gusar karena tidak pernah bisa bertemu dengan
Putri Keberuntungan. Akhirnya ia memutuskan untuk menjual delmannya dan pergi
berkelana dengan satu tujuan mencari Putri Keberuntungan. Pak Gusar menghabiskan uangnya berkelana
dari satu kota ke kota yang lain namun Putri Keberuntungan tidak pernah ia
temui. Akhirnya suatu hari semua uangnya sudah habis terkuras dan ia mulai
menyesali dirinya. Ia merasa gusar dan juga malu sekali untuk kembali ke
kotanya namun tidak ada pilihan lain kecuali pulang ke rumah.
Pagi itu di pasar kota Alam
Lestari, matahari bersinar cerah, pak Girang sedang bergirang karena
keberhasilannya kembali ia dapat membeli sebuah delman baru. Dengan hati girang
ia memandang dan meraba delman baru itu, ia menepuk-nepuk punggung kuda dan
membelai bulu leher kudanya. Sementara
ia berdiri seorang berpakaian lusuh datang mendekat dan berkata:” Aku ingin
menumpang delman, tapi uangku habis sementara itu aku lapar dan tidak mampu
berjalan jauh lagi, maukah engkau memberi tumpangan..? Pak Girang sudah
terbiasa bertindak ramah dan baik hati tentu saja ia menyambut penumpang baru ini.
Baru saja delman akan beranjak
seorang penumpang lain ikut bergabung. Seorang tua berpakain rapih dan memiliki
wajah girang mirip pak Girang. Penumpang baru ini kemudian berkata:”Pak Girang,
selamat ya karena kamu sudah beruntung .....” Ketiga orang itu mengangkat
kepala mereka dan saling berpandangan: Pak Tua, pak Girang, pak Gusar ...!
Demikian mereka serempak saling mengenal satu sama lain. Pak Tua dan pak Girang
tentu sama-sama bergirang hati karena saling bertemu lagi hanya pak Gusar yang
menunduk malu.
Pak Tua tidak lama bersama
mereka karena dengan cepat ia pergi lagi. Kini tinggal pak Girang yang tetap
girang dan pak Gusar yang sudah jatuh miskin. Karena pak Girang sangat baik
hati ia menolong pak Gusar, ia menjadikan pak Gusar salah seorang penarik
delman miliknya namun kali ini pak Gusar tidak berani lagi gusar kepada kuda
maupun penumpang delmannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar