Sabtu, 04 Januari 2014

Cerita Ayah: Putri Keberuntungan


PUTRI  KEBERUNTUNGAN
(Antonius Tanan)

Alam Lestari adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebuah kaki gunung.  Di kota kecil yang menyenangkan itulah tinggal keluarga pak Gusar dan keluarga pak Girang. Pak Gusar adalah penarik delman yang sudah berpengalaman belasan tahun. Entah dari mana ia memperoleh nama Gusar itu, tapi memang pak Gusar gampang gusar. Ia kerap gusar kepada kuda miliknya, gusar kepada sesama penarik delman dan juga gusar kepada para pelanggannya. Sebaliknya pak Girang adalah seorang yang selalu girang walau ia hanya seorang petani sederhana. Lihatlah wajahnya yang tampak bulat, matanya yang ceria dan bibirnya yang selalu menampakkan seyum.

Suatu hari pak Girang menemui pak Gusar ia ingin belajar bagaimana menjadi seorang penarik delman.: “Sekali jadi penarik delman, jangan takut bertindak keras pada binatang kuda, binatang ini hanya bekerja keras kalau sering dicambuk...” Pak Gusar melanjutkan:” Penumpang delman selalu membawa masalah, mereka membuat delman kita kotor, mereka cerewet menawar ongkos, mereka meminta kita menunggu dan mengangkat barang-barangnya, tidak perlu terlalu ramah kepada mereka..” Oh, pak Girang terkejut dan merasa aneh.

Sementara mereka berbincang  seorang tua berjalan perlahan mendekati mereka dengan wajah bingung dan letih. Pakaiannya terlalu rapih kalau disebut pengemis namun jelas pak Tua sedang bermasalah. Pak Gusar berkata sambil berbisik:”Jangan lihat terlalu lama pak Tua itu nanti ia minta tolong dan kita akan repot...” Tapi pak  Girang tidak menghiraukan ia langsung beranjak mendekati pak Tua. Karena pak Girang bergerak melangkah maka pak Gusar juga berjalan mengikuti.

Ternyata pak Tua sedang membutuhkan segelas air untuk minum obat. Pak Girang segera menawarkan botol air miliknya sendiri, benar saja sehabis minum dan memakan obatnya pak Tua langsung tampak segar ia sangat berterima kasih: “Aku ingin berterima kasih dengan menyampaikan sebuah rahasia. Dalam waktu dekat ini  akan berkunjung ke kota ini Putri Keberuntungan. Ia disebut Putri Keberuntungan karena ia selalu membuat orang yang berjumpa dengannya menjadi beruntung dan ia memiliki 100 pengawal yang sering menyamar. Mereka selalu mencari orang-orang baik hati dan murah hati seperti kalian yang sigap melayani sesama tanpa harus diminta atau dituntut...”

Pak Gusar sangat bersemangat mendengar hal itu, untuk pertama kali setelah sekian lama ia tampak sungguh bersemangat. Keesokan paginya pak Gusar langsung membawa delmannya ke batas kota, ia ingin jadi orang pertama bertemu dengan Putri keberuntungan. Ia menunggu dan menunggu, banyak orang lalu lalang di depan delman, sebagian memintanya untuk mengantar ke suatu tempat tapi ia menolak tawaran-tawaran itu.

Berbeda dengan pak Gusar maka Pak Girang berpikir: “Aku akan bangun lebih pagi, mencari penumpang delman sebanyak mungkin, barangkali saja salah satu diantaranya adalah Putri Keberuntungan atau para pengawalnya.....” Keesokan harinya ia bangun lebih pagi dan pulang lebih larut, ia memutuskan untuk bekerja lebih lama dan lebih keras. Pak Girang juga berpikir:”Aku juga harus bersikap lebih ramah dan baik hati kepada para penumpang delman, jangan-jangan mereka para pengawal Putri  Keberuntungan..”. Sekarang setiap kali Pak Girang bertemu pelanggan ia melayani pelanggan dengan semangat lebih besar dengan segala keramah tamahan. Tidak mengherankan bila kemudian pak Girang memiliki banyak sekali pelanggan dan menjadi pemilik delman paling terkenal di Alam Lestari.

Bagaimana dengan pak Gusar? Ternyata hati pak Gusar makin gusar karena tidak pernah bisa bertemu dengan Putri Keberuntungan. Akhirnya ia memutuskan untuk menjual delmannya dan pergi berkelana dengan satu tujuan mencari Putri  Keberuntungan. Pak Gusar menghabiskan uangnya berkelana dari satu kota ke kota yang lain namun Putri Keberuntungan tidak pernah ia temui. Akhirnya suatu hari semua uangnya sudah habis terkuras dan ia mulai menyesali dirinya. Ia merasa gusar dan juga malu sekali untuk kembali ke kotanya namun tidak ada pilihan lain kecuali pulang ke rumah.

Pagi itu di pasar kota Alam Lestari, matahari bersinar cerah, pak Girang sedang bergirang karena keberhasilannya kembali ia dapat membeli sebuah delman baru. Dengan hati girang ia memandang dan meraba delman baru itu, ia menepuk-nepuk punggung kuda dan membelai bulu leher kudanya.  Sementara ia berdiri seorang berpakaian lusuh datang mendekat dan berkata:” Aku ingin menumpang delman, tapi uangku habis sementara itu aku lapar dan tidak mampu berjalan jauh lagi, maukah engkau memberi tumpangan..? Pak Girang sudah terbiasa bertindak ramah dan baik hati tentu saja ia  menyambut penumpang baru ini.

Baru saja delman akan beranjak seorang penumpang lain ikut bergabung. Seorang tua berpakain rapih dan memiliki wajah girang mirip pak Girang. Penumpang baru ini kemudian berkata:”Pak Girang, selamat ya karena kamu sudah beruntung .....” Ketiga orang itu mengangkat kepala mereka dan saling berpandangan: Pak Tua, pak Girang, pak Gusar ...! Demikian mereka serempak saling mengenal satu sama lain. Pak Tua dan pak Girang tentu sama-sama bergirang hati karena saling bertemu lagi hanya pak Gusar yang menunduk malu.

Pak Tua tidak lama bersama mereka karena dengan cepat ia pergi lagi. Kini tinggal pak Girang yang tetap girang dan pak Gusar yang sudah jatuh miskin. Karena pak Girang sangat baik hati ia menolong pak Gusar, ia menjadikan pak Gusar salah seorang penarik delman miliknya namun kali ini pak Gusar tidak berani lagi gusar kepada kuda maupun penumpang delmannya.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar