RARA
& RIRI
(Antonius
Tanan)
Oma Desi adalah adik dari nenek, ia tinggal
bersama keluarga kami dan ikut mengasuh aku dan adikku. Oma Desi kerap mengajar
kami tentang karakter-karakter yang baik, ia pandai menghibur kami dengan
cerita-cerita yang menarik dan mengandung pelajaran. Aku dan adikku masih duduk
di bangku SD, usia kami berselisih hanya satu tahun jadi kadang kami bertengkar
berebut mainan. Suatu kali ketika aku bertengkar dengan adikku oma Desi melerai
dengan mengajak kami berdua untuk mendengar ceritanya. Inilah cerita dari Oma
Desi.
Di sebuah kota yang bernama Bumi Harapan
terdapat Sekolah Dasar Prestasi, di sekolah ini ada 2 orang murid yang sangat
terkenal. Yang pertama adalah Riri, ia berasal dari sebuah keluarga yang kaya
raya. Riri selalu membawa uang dan permen yang banyak ke sekolah, tidak heran
temannya juga banyak. Sesungguhnya tidak semua orang suka pada Riri karena ia
adalah anak yang suka iri, risau dan ribut. Riri paling sedih kalau bertemu
dengan orang yang lebih terkenal dibandingkan dia.
Murid lain yang terkenal adalah Rara, ia
adalah juara kelas yang baik hati. Berbeda dengan Riri maka Rara adalah anak yang
ramah, rajin dan rapih. Rara memang
ramah karena ia biasa menyambut teman-temannya dengan senyum dan membuat mereka
merasa penting, ia senang membagikan kepintarannya dan tidak mengharapkan
balasan. Ia juga anak yang rajin karena biasa menyelesaikan tugas sekolah
dengan benar serta mematuhi petunjuk. Bapak guru, ibu guru dan teman-teman Rara
tentunya sayang kepada Rara, mereka memanggil Rara dengan panggilan Rara Juara.
Hanya Riri yang tidak menyukai Rara, ini tentunya karena Riri merasa iri hati
terhadap kepandaian Rara.
Riri selalu risau bila teman-temannya memuji
Rara, ia gusar bila ada orang lain yang lebih diperhatikan teman-temannya. Oleh
karena itu ia kerap menyombongkan diri untuk menarik perhatian, ia sering
sekali mengatakan:”Apapun yang Rara miliki aku memiliki dua kali lebih banyak,
aku punya 2 rumah, aku punya 2 sepeda, aku punya 2 lemari pakaian, aku punya
lebih banyak hal....” Tidak heran bila teman-teman di kelas SD tersebut
memanggil Riri dengan panggilan Riri Dua Kali.
Setelah Riri dan Rara lulus kuliah di
Perguruan Tinggi mereka berdua berhasil menjadi pemimpin perusahaan di kota Jakarta. Riri bekerja di sebuah
perusahaan milik keluarganya dan Rara bekerja di sebuah perusahaan asing yang
terkenal. Riri menjadi pimpinan perusahaan karena perusahaan itu milik ayahnya.
Sedangkan Rara berhasil menjadi pimpinan perusahaan karena memang ia seorang
yang kreatif, rajin dan pintar bergaul.
Suatu hari SD Prestasi memanggil semua
alumninya untuk berkumpul kembali di kota Bumi Harapan. SD Prestasi akan mengadakan
malam seni untuk mengumpulkan dana menolong ibu Ester seorang guru SD Prestasi
yang sedang sakit keras karena penyakit ginjal yang parah. Banyak sekali alumni
SD Prestasi yang datang berkumpul, mereka memiliki kenangan yang manis baik
tentang ibu Ester dan SD Prestasi. Baik Riri maupun Rara keduanya menyempatkan
diri untuk datang. Seperti biasa maka Riri tetap menyombongkan diri. Ia berkata
kepada semua temannya bahwa ia tetap Riri Dua Kali, artinya ia akan menyumbang
dua kali lebih besar dibandingkan Rara. Pada malam dana itu semua orang
menunggu apa yang akan disumbangkan oleh Rara karena berapapun nilainya Riri
akan menyumbang dua kalinya.
Sekarang Rara sudah berdiri diatas panggung
dengan sepenuh hati ia berkata:”Kawan-kawan sekalian ibu Ester sesungguhnya adalah
ibu angkat dan penolong sejati dalam hidupku. Ketika aku bersekolah di kota
Bumi Harapan ini aku sering terancam tidak bisa meneruskan sekolah karena
masalah biaya namun ibu Ester telah menjadi penolong, ia selalu mencarikan
jalan keluar. Bahkan aku berhasil mendapatkan bea siswa masuk ke Perguruan
Tinggi melalui bantuan dan pengorbanan ibu Ester oleh karena itu aku merasa
pantas untuk menjadi donor ginjal, memberikan salah satu ginjalku untuk ibu
Ester....” Baru saja Riri mendengar hal itu ia langsung pingsan karena ia tidak
mungkin memberikan ke dua ginjalnya kepada ibu Ester.
Aku dan adikku tertawa terbahak-bahak
menbayangkan apa terjadi kepada Riri karena kesombongan dan karakter iri hati
yang ada dalam dirinya. Oma Desi juga ikut tertawa kemudian ia berkata:”Siapa
diantara kalian yang seperti Riri...? Kami berdia tentu diam saja. Kemudian oma
Desi bertanya lagi:”Siapa diantara kalian yang seperti Rara..? Kami berdua
segera mengangkat tangan dan berteriak:”Aku, aku...! Dengan tetap tersenyum oma
Desi merangkul kami dan berkata:”Nah sekarang mari saling berbagi dan berbuat
baik seperti Rara..”
Riri dan Rara dua-duanya akhirnya lulus dari
SD Prestasi. Riri kemudian pindah dari Bumi Harapan. Oleh karena orang tua Riri
sangat kaya maka Riri dapat melanjutkan sekolah ke luar negeri. Sebaliknya Rara
tetap tinggal di kota Bumi Permai. Ketika lulus SMA, Rara berhasil mendapatkan
bea siswa sehingga ia berhasil menyelesaikan Perguruan tinggi. Ia lulus dengan
angka yang bagus sekali karena memang ia anak yang rajin belajar dan rapih
dalam menyelesaikan tugas sekolah.
Rara tidak suka mendengar itu dan ia berkata kepada
Riri:”Jangan pakai kata dua kali lagi, itu kan dulu waktu kita kecil dan kamu
kan belum tahu pemberian apa yang akan aku berikan untuk ibu Ester....” , Belum
habis Rara berkata Riri sudah menyela:”Rara, jangan sombong ya, mentang-mentang
sudah bekerja, aku tetap lebih kaya dari kamu, apapun juga yang kamu bisa
sumbangkan aku akan menyumbang dua kali lebih besar...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar