Sabtu, 04 Januari 2014

Cerita Ayah: Riri & Rara


RARA & RIRI
(Antonius Tanan)

Oma Desi adalah adik dari nenek, ia tinggal bersama keluarga kami dan ikut mengasuh aku dan adikku. Oma Desi kerap mengajar kami tentang karakter-karakter yang baik, ia pandai menghibur kami dengan cerita-cerita yang menarik dan mengandung pelajaran. Aku dan adikku masih duduk di bangku SD, usia kami berselisih hanya satu tahun jadi kadang kami bertengkar berebut mainan. Suatu kali ketika aku bertengkar dengan adikku oma Desi melerai dengan mengajak kami berdua untuk mendengar ceritanya. Inilah cerita dari Oma Desi.

Di sebuah kota yang bernama Bumi Harapan terdapat Sekolah Dasar Prestasi, di sekolah ini ada 2 orang murid yang sangat terkenal. Yang pertama adalah Riri, ia berasal dari sebuah keluarga yang kaya raya. Riri selalu membawa uang dan permen yang banyak ke sekolah, tidak heran temannya juga banyak. Sesungguhnya tidak semua orang suka pada Riri karena ia adalah anak yang suka iri, risau dan ribut. Riri paling sedih kalau bertemu dengan orang yang lebih terkenal dibandingkan dia.

Murid lain yang terkenal adalah Rara, ia adalah juara kelas yang baik hati. Berbeda dengan Riri maka Rara adalah anak yang  ramah, rajin dan rapih. Rara memang ramah karena ia biasa menyambut teman-temannya dengan senyum dan membuat mereka merasa penting, ia senang membagikan kepintarannya dan tidak mengharapkan balasan. Ia juga anak yang rajin karena biasa menyelesaikan tugas sekolah dengan benar serta mematuhi petunjuk. Bapak guru, ibu guru dan teman-teman Rara tentunya sayang kepada Rara, mereka memanggil Rara dengan panggilan Rara Juara. Hanya Riri yang tidak menyukai Rara, ini tentunya karena Riri merasa iri hati terhadap kepandaian Rara.

Riri selalu risau bila teman-temannya memuji Rara, ia gusar bila ada orang lain yang lebih diperhatikan teman-temannya. Oleh karena itu ia kerap menyombongkan diri untuk menarik perhatian, ia sering sekali mengatakan:”Apapun yang Rara miliki aku memiliki dua kali lebih banyak, aku punya 2 rumah, aku punya 2 sepeda, aku punya 2 lemari pakaian, aku punya lebih banyak hal....” Tidak heran bila teman-teman di kelas SD tersebut memanggil Riri dengan panggilan Riri Dua Kali.

Setelah Riri dan Rara lulus kuliah di Perguruan Tinggi mereka berdua berhasil menjadi pemimpin perusahaan di  kota Jakarta. Riri bekerja di sebuah perusahaan milik keluarganya dan Rara bekerja di sebuah perusahaan asing yang terkenal. Riri menjadi pimpinan perusahaan karena perusahaan itu milik ayahnya. Sedangkan Rara berhasil menjadi pimpinan perusahaan karena memang ia seorang yang kreatif, rajin dan pintar bergaul.

Suatu hari SD Prestasi memanggil semua alumninya untuk berkumpul kembali di kota Bumi Harapan. SD Prestasi akan mengadakan malam seni untuk mengumpulkan dana menolong ibu Ester seorang guru SD Prestasi yang sedang sakit keras karena penyakit ginjal yang parah. Banyak sekali alumni SD Prestasi yang datang berkumpul, mereka memiliki kenangan yang manis baik tentang ibu Ester dan SD Prestasi. Baik Riri maupun Rara keduanya menyempatkan diri untuk datang. Seperti biasa maka Riri tetap menyombongkan diri. Ia berkata kepada semua temannya bahwa ia tetap Riri Dua Kali, artinya ia akan menyumbang dua kali lebih besar dibandingkan Rara. Pada malam dana itu semua orang menunggu apa yang akan disumbangkan oleh Rara karena berapapun nilainya Riri akan menyumbang dua kalinya.

Sekarang Rara sudah berdiri diatas panggung dengan sepenuh hati ia berkata:”Kawan-kawan sekalian ibu Ester sesungguhnya adalah ibu angkat dan penolong sejati dalam hidupku. Ketika aku bersekolah di kota Bumi Harapan ini aku sering terancam tidak bisa meneruskan sekolah karena masalah biaya namun ibu Ester telah menjadi penolong, ia selalu mencarikan jalan keluar. Bahkan aku berhasil mendapatkan bea siswa masuk ke Perguruan Tinggi melalui bantuan dan pengorbanan ibu Ester oleh karena itu aku merasa pantas untuk menjadi donor ginjal, memberikan salah satu ginjalku untuk ibu Ester....” Baru saja Riri mendengar hal itu ia langsung pingsan karena ia tidak mungkin memberikan ke dua ginjalnya kepada ibu Ester.

Aku dan adikku tertawa terbahak-bahak menbayangkan apa terjadi kepada Riri karena kesombongan dan karakter iri hati yang ada dalam dirinya. Oma Desi juga ikut tertawa kemudian ia berkata:”Siapa diantara kalian yang seperti Riri...? Kami berdia tentu diam saja. Kemudian oma Desi bertanya lagi:”Siapa diantara kalian yang seperti Rara..? Kami berdua segera mengangkat tangan dan berteriak:”Aku, aku...! Dengan tetap tersenyum oma Desi merangkul kami dan berkata:”Nah sekarang mari saling berbagi dan berbuat baik seperti Rara..”        


Riri dan Rara dua-duanya akhirnya lulus dari SD Prestasi. Riri kemudian pindah dari Bumi Harapan. Oleh karena orang tua Riri sangat kaya maka Riri dapat melanjutkan sekolah ke luar negeri. Sebaliknya Rara tetap tinggal di kota Bumi Permai. Ketika lulus SMA, Rara berhasil mendapatkan bea siswa sehingga ia berhasil menyelesaikan Perguruan tinggi. Ia lulus dengan angka yang bagus sekali karena memang ia anak yang rajin belajar dan rapih dalam menyelesaikan tugas sekolah.

Rara tidak suka mendengar itu dan ia berkata kepada Riri:”Jangan pakai kata dua kali lagi, itu kan dulu waktu kita kecil dan kamu kan belum tahu pemberian apa yang akan aku berikan untuk ibu Ester....” , Belum habis Rara berkata Riri sudah menyela:”Rara, jangan sombong ya, mentang-mentang sudah bekerja, aku tetap lebih kaya dari kamu, apapun juga yang kamu bisa sumbangkan aku akan menyumbang dua kali lebih besar...”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar