Sabtu, 04 Januari 2014

Dimana Belajar Jadi Orang Tua


DIMANA  ANDA BELAJAR JADI ORANG TUA….?
Antonius Tanan: Seorang ayah yang masih belajar

q  Pendidikan seorang anak harus dimulai setidaknya seratus tahun sebelum dia dilahirkan (Lady Bird Johnson)


Memiliki sebuah piano bukan berarti anda adalah seorang pianis, setujukah anda dengan pendapat ini? Berikutnya sepakatkah anda dengan pendapat Winston Churchill yang mengatakan: “Mempunyai anak bukan berarti anda langsung menjadi orang tua sama seperti mempunyai piano tidak akan membuat anda menjadi seorang pianis”. Memiliki seorang anak dan membesarkan anak memang adalah dua hal yang berbeda.

Kebanyakan dari kita (termasuk saya), merasa bahwa menjadi ayah cukup belajar dari pengalaman sendiri, pengetahuan dari media massa dan pengamatan sehari-hari di sekitar kita setelah itu ya mempraktekkan secara coba-coba. Padahal kalau kita ditanya keberhasilan dalam karir dan keberhasilan dalam keluarga, mana yang lebih penting? Rasanya hampir semua kita akan mengatakan bahwa keberhasilan keluarga lebih penting dari keberhasilan karir. Tapi faktanya investasi waktu, kecakapan dan enersi  yang kita sediakan untuk merintis keberhasilan karir sepertinya jauh lebih besar dibandingkan dengan investasi kita untuk mendidik anak dalam keluarga. Sebagai contoh adalah saya sendiri, saya kuliah, kursus dan jadi kutu buku demi karir saya namun saya jadi malu kalau membandingkannya dengan investasi waktu saya untuk belajar jadi ayah yang baik.

Saya, seperti kebanyakan kita menjadi ayah tanpa persiapan. Saya take it for granted bahwa saya siap jadi ayah. Tanpa persiapan yang cukup telah saya minta kepada  Tuhan tanggung jawab seorang ayah. Saya ingat tahun-tahun ketika saya berlutut meminta seorang anak kepada Tuhan. Yang saya bayangkan barangkali hanya lucunya seorang bayi dan anak balita. Tidak terpikir oleh saya untuk berdoa agar Tuhan mempersiapkan saya jadi ayah yang sesungguhnya.

Seorang nasi telah jadi bubur, apakah anda senasib dengan saya? Bila ya mari kita berbincang dari berbagi solusi. Better late than never … lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukankah begitu ? Inilah yang telah saya lakukan untuk mengkompensasi ketidak tahuan dan kecerobohan saya yang lalu. Pertama saya mencari informasi sebanyak mungkin apakah itu lewat internet, buku, majalah, koran ataupun bertanya kepada orang yang lebih tahu dan berpengalaman. Bila saya bertemu dengan sepasang orang tua yang saya anggap berhasil mendidik anak saya mencoba menemukan cara untuk bertanya dan belajar dari pengalaman mereka.

Kedua, saya menyediakan waktu pasti setiap hari untuk bersama dan bergaul dengan anak-anak saya. Saya berupaya memanfaatkan waktu dan bukan hanya mengisi waktu. Saya membuat rencana dan menciptakan tantangan-tantangan dalam diri saya untuk jadi guru, trainer dan mentor bagi anak-anak saya. Harapan saya sederhana saja yaitu kalau suatu kali anak-anak saya ditanya siapakah laki-laki dewasa yang paling berpengaruh dalam hidup mereka maka saya berharap (dan berdoa) agar dengan jujur dan tulus mereka menyebut nama saya.

Ketiga, saya terus belajar membangun keluarga yang dekat satu sama lain. Believe it or not... saya sekeluarga tidur satu kamar bareng-bareng. Ya saya, istri, anak lelaki 16 tahun dan anak perempuan 13 tahun. Mereka masing-masing punya kamar sendiri tapi malam hari kita semua keroyokan di kamar saya dan istri. Saya sadar suatu kali mereka akan berada di kamar masing-masing ketika usia mereka makin menanjak dewasa. Nah mumpung mereka masih mau ya sekarang bareng-bareng saja.

Keempat, saya dan/atau istri menyempatkan waktu untuk hadir dalam kursus, seminar atau pelatihan yang berkenaan dengan pendidikan anak. Tahun 2007 saya memutuskan untuk menempuh Pendidikan S2 saya yang ketiga dari University of Connecticut menempuh program studi tentang Psikologi Pendidikan dan alasan utama saya belajar lagi adalah karena ingin jadi mentor yang baik untuk anak-anak saya. Saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk memberikan yang terbaik dari diri saya untuk anak-anak saya. Mereka sangat pantas untuk mendapatkan waktu terbaik, talenta terbaik dan juga konsentrasi yang terbaik dari saya. Sekarang saya sedang berupaya berlari sekencang mungkin mengejar ketinggalan saya. Inilah gara-gara ingin berkeluarga dan memiliki anak-anak tanpa “ijazah” yang cukup.

Kelima saya berdoa tiap hari kiranya TUHAN Maha Pengasih memimpin dan menolong saya. Saya tahu bahwa ada banyak hal yang tak saya ketahui. Apa saja yang ada di pikiran anak-anak saya saya tak bisa memahami seluruhnya. Apa saja yang berkecamuk di hatinya saya pikir tidak semuanya mereka sampaikan kepada kami orang tuanya. Nah inilah yang membuat kita semua pantas berdoa tiap hari untuk anak-anak kita.

By the way, sekian tahun yang lalu saya pernah bertanya kepada anak saya yang tertua:”Kalau ayah yang hebat itu nilainya 10, maka papimu itu dapat nilai berapa?”. Anak saya tidak langsung menjawab, hati saya jadi sedikit cemas. Lalu dengan santai ia berkata:”Dapat 8 deh..”. Wah lega juga walau bukan ranking 1 namun angka 8 kan lolos ujian bukan? Apapun itu, peluang untuk memperbaiki diri masih lebar terbuka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar