DIMANA ANDA BELAJAR JADI ORANG TUA….?
Antonius Tanan: Seorang
ayah yang masih belajar
q
Pendidikan seorang anak harus dimulai
setidaknya seratus tahun sebelum dia dilahirkan (Lady Bird Johnson)
Memiliki
sebuah piano bukan berarti anda adalah seorang pianis, setujukah anda dengan
pendapat ini? Berikutnya sepakatkah anda dengan pendapat Winston Churchill yang
mengatakan: “Mempunyai anak bukan berarti
anda langsung menjadi orang tua sama seperti mempunyai piano tidak akan membuat
anda menjadi seorang pianis”. Memiliki seorang anak dan membesarkan anak memang
adalah dua hal yang berbeda.
Kebanyakan
dari kita (termasuk saya), merasa bahwa menjadi ayah cukup belajar dari
pengalaman sendiri, pengetahuan dari media massa dan pengamatan sehari-hari di
sekitar kita setelah itu ya mempraktekkan secara coba-coba. Padahal kalau kita
ditanya keberhasilan dalam karir dan keberhasilan dalam keluarga, mana yang lebih
penting? Rasanya hampir semua kita akan mengatakan bahwa keberhasilan keluarga
lebih penting dari keberhasilan karir. Tapi faktanya investasi waktu, kecakapan
dan enersi yang kita sediakan untuk
merintis keberhasilan karir sepertinya jauh lebih besar dibandingkan dengan
investasi kita untuk mendidik anak dalam keluarga. Sebagai contoh adalah saya
sendiri, saya kuliah, kursus dan jadi kutu buku demi karir saya namun saya jadi
malu kalau membandingkannya dengan investasi waktu saya untuk belajar jadi ayah
yang baik.
Saya, seperti kebanyakan kita menjadi ayah
tanpa persiapan. Saya take it for granted
bahwa saya siap jadi ayah. Tanpa persiapan yang cukup telah saya minta
kepada Tuhan tanggung jawab seorang
ayah. Saya ingat tahun-tahun ketika saya berlutut meminta seorang anak kepada
Tuhan. Yang saya bayangkan barangkali hanya lucunya seorang bayi dan anak balita.
Tidak terpikir oleh saya untuk berdoa agar Tuhan mempersiapkan saya jadi ayah
yang sesungguhnya.
Seorang nasi telah jadi bubur, apakah anda
senasib dengan saya? Bila ya mari kita berbincang dari berbagi solusi. Better late than never … lebih baik
terlambat daripada tidak sama sekali bukankah begitu ? Inilah yang telah saya
lakukan untuk mengkompensasi ketidak tahuan dan kecerobohan saya yang lalu.
Pertama saya mencari informasi sebanyak mungkin apakah itu lewat internet, buku,
majalah, koran ataupun bertanya kepada orang yang lebih tahu dan berpengalaman.
Bila saya bertemu dengan sepasang orang tua yang saya anggap berhasil mendidik
anak saya mencoba menemukan cara untuk bertanya dan belajar dari pengalaman
mereka.
Kedua, saya menyediakan waktu pasti setiap hari
untuk bersama dan bergaul dengan anak-anak saya. Saya berupaya memanfaatkan
waktu dan bukan hanya mengisi waktu. Saya membuat rencana dan menciptakan
tantangan-tantangan dalam diri saya untuk jadi guru, trainer dan mentor bagi
anak-anak saya. Harapan saya sederhana saja yaitu kalau suatu kali anak-anak
saya ditanya siapakah laki-laki dewasa yang paling berpengaruh dalam hidup
mereka maka saya berharap (dan berdoa) agar dengan jujur dan tulus mereka
menyebut nama saya.
Ketiga, saya terus belajar membangun keluarga
yang dekat satu sama lain. Believe it or
not... saya sekeluarga tidur satu kamar bareng-bareng. Ya saya, istri, anak
lelaki 16 tahun dan anak perempuan 13 tahun. Mereka masing-masing punya kamar
sendiri tapi malam hari kita semua keroyokan di kamar saya dan istri. Saya
sadar suatu kali mereka akan berada di kamar masing-masing ketika usia mereka
makin menanjak dewasa. Nah mumpung mereka masih mau ya sekarang bareng-bareng
saja.
Keempat, saya dan/atau istri menyempatkan waktu
untuk hadir dalam kursus, seminar atau pelatihan yang berkenaan dengan pendidikan
anak. Tahun 2007 saya memutuskan untuk menempuh Pendidikan S2 saya yang ketiga
dari University of Connecticut menempuh program studi tentang Psikologi
Pendidikan dan alasan utama saya belajar lagi adalah karena ingin jadi mentor
yang baik untuk anak-anak saya. Saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk
memberikan yang terbaik dari diri saya untuk anak-anak saya. Mereka sangat
pantas untuk mendapatkan waktu terbaik, talenta terbaik dan juga konsentrasi
yang terbaik dari saya. Sekarang saya sedang berupaya berlari sekencang mungkin
mengejar ketinggalan saya. Inilah gara-gara ingin berkeluarga dan memiliki
anak-anak tanpa “ijazah” yang cukup.
Kelima saya berdoa tiap hari kiranya TUHAN Maha
Pengasih memimpin dan menolong saya. Saya tahu bahwa ada banyak hal yang tak
saya ketahui. Apa saja yang ada di pikiran anak-anak saya saya tak bisa
memahami seluruhnya. Apa saja yang berkecamuk di hatinya saya pikir tidak
semuanya mereka sampaikan kepada kami orang tuanya. Nah inilah yang membuat
kita semua pantas berdoa tiap hari untuk anak-anak kita.
By the way, sekian tahun yang lalu saya pernah bertanya kepada anak
saya yang tertua:”Kalau ayah yang hebat itu nilainya 10, maka papimu itu dapat
nilai berapa?”. Anak saya tidak langsung menjawab, hati saya jadi sedikit
cemas. Lalu dengan santai ia berkata:”Dapat 8 deh..”. Wah lega juga walau bukan
ranking 1 namun angka 8 kan lolos ujian bukan? Apapun itu, peluang untuk
memperbaiki diri masih lebar terbuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar