WIRANIAGA YANG HEBAT
(Antonius
Tanan)
Didi adalah seorang anak kelas 4 SD yang pemalu, ia jarang berbicara
bila tidak diajak berbicara, ia tidak bertanya bila tidak ditanya, ia juga
jarang sekali menyapa teman-temannya. Tidak heran bila teman-temannya suka
menggoda Didi sebagai DDS atau Didi Diam Saja. Didi sesunguhnya sedih sekali
karena tidak punya teman. Sayang sekali semakin ia sedih semakin sedikit ia
bergaul dengan teman-temannya dan tentu saja akibatnya ia makin kehilangan
teman.
Suatu hari ketika ia sedang sangat sedih karena sering dipanggil DDS,
paman Wira, adik ibu Didi yang paling kecil datang menghampirinya dan
berkata:”Halo Didi, anak hebat sedang melamun apa..? Didi sangat terkejut dan
tidak dapat menyembunyikan kesedihan hatinya karena memang wajahnya tampak
murung sekali. Paman Wira adalah seorang yang baik dan pandai bergaul sehingga
dengan segera menghibur Didi. Ia berkata:”Waktu aku kecil seperti engkau, aku
juga sangat pemalu Di..” Paman Wira menatap wajah Didi sambil memegang pundak Didi
kemudian ia melanjutkan:”Namun ketika paman beranjak dewasa paman menemukan
sebuah rahasia besar yaitu rahasia bagaimana menjadi gembira dan mendapatkan
banyak teman..”
Wajah Didi sekarang mulai gembira, ia merasa ada harapan. Paman Wira
kemudian melanjutkan:”Karena paman punya begitu banyak teman maka pada tahun
ini paman terpilih sebagai Wiraniaga Yang Paling Hebat, ya paman berhasil
menjadi penjual mobil paling banyak di seluruh Indonesia..” Didi makin
bersemangat dan mengagumi paman Wira yang memang hebat dan baik hati itu. Paman
Wira kemudian mendekatkan wajahnya, sambil berbisik dan merangkul Didi ia berkata:”Di maukan paman
ajarkan rahasia-rahasia itu, kalau Didi melakukannya maka Didi suatu kali akan
menjadi orang yang lebih hebat dari paman, mau kan Di..? Didi tentu saja mau
sekali ia mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali.
Paman Wira kemudian membuka dompetnya, ia kemudian mengeluarkan sebuah
kartu nama miliknya. Kartu nama milik paman Wira sangat menarik, karena
terdapat foto paman Wira yang sedang tersenyum. Paman Wira menjelaskan:”Di,
pada kartu nama ini terdapat rahasia itu, coba lihat pada kartu nama ini
terdapat 3 hal penting, pertama ada gambar wajah paman yang sedang tersenyum,
kedua ada nama paman dan ketiga ada tulisan Wiraniaga Otomotif Paling Hebat..”
Paman Wira melanjutkan:”Di, rahasia yang pertama mempunyai banyak teman adalah memberikan
seyum kepada teman-teman, kedua panggil namanya dan ketiga puji dia, kalau
paman ringkas itu jadi SPP atau Senyum, Panggil Namanya dan Puji dia, gampang
kan? Sambil tersenyum paman Wira menekankan kembali:”Coba hafalkan sekarang
SPP, SPP, SPP, senyum, panggil nama dan puji...”
Didi rupanya sudah bosan diejek teman-temannya sehingga dengan penuh
semangat ia berusaha melaksanakan rumus SPP dari Paman Wira, cita-citanya ia
ingin menjadi seorang yang hebat seperti paman Wira. Setiap Didi tiba di
sekolah ia berusaha terseyum kepada setiap teman atau guru yang ia temui. Tidak
selalu Didi berhasil, sering juga ia lupa tapi syukurlah paman Wira kerap menelpon
untuk mengingatkan dan memberi semangat. Ia berkata:”Hayo Di, kamu pasti
bisa..”. Selain belajar tersenyum Didi
juga belajar untuk menyapa teman-temannya lebih dulu dengan ramah misalnya
memanggil: “Hai Toni, hai Daru, hai Robert” tentunya sambil memberikan seyum.
Setelah belajar memberi salam dan memanggil nama teman paman Wira
mendorong Didi untuk memperhatikan hal-hal menarik yang ia lihat dalam diri
teman-temannya lalu memberikan pujian yang tulus. Dengan penuh perjuangan Didi
berusaha melakukannya, paman Wira juga tidak henti memberi semangat. Setelah
sekian lama Didi mulai biasa berkata :”Robert sepeda kamu koq keren banget...”
Ketika bertemu Rosa, Didi juga bisa berkata:” Selamat ya kamu mendapat nilai
matematika tertinggi...” Kepada Simon, Didi berkata:”Simon, kamu memang pandai
main sepak bola..” Ketika Didi bertemu mbak Ning yang biasa membersihkan kelas
ia juga mampu berkata:”Mbak Ning terima kasih ya, kelas ku selalu bersih...”
Dorongan paman Wira memang sangat berarti untuk Didi karena Didi telah
berhasil menjadi seorang anak yang pandai bergaul. Perubahan Didi membuat kawan-kawannya
menyenangi Didi dan tentu saja Didi tidak pernah kekurangan teman. Ayah dan ibu
Didi merasa senang, ibu dan bapa guru juga bangga melihat Didi yang makin
ceria, paman Wira tentu juga merasa gembira dan yang paling bahagia tentu Didi
sendiri. Sekarang kalau Didi ditanya apa cita-citanya maka dengan cepat ia akan
menjawab:”Menjadi wiraniaga yang paling hebat dan lebih hebat dari paman
Wira...” Paman Wira tertawa senang mendengar tekad Didi dan dengan mengacungkan
jempolnya ia berkata:”Didi, kamu pasti bisa,,,”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar