Sabtu, 04 Januari 2014

Cerita Ayah: Wiraniaga Yang Hebat


WIRANIAGA YANG HEBAT
(Antonius Tanan)


Didi adalah seorang anak kelas 4 SD yang pemalu, ia jarang berbicara bila tidak diajak berbicara, ia tidak bertanya bila tidak ditanya, ia juga jarang sekali menyapa teman-temannya. Tidak heran bila teman-temannya suka menggoda Didi sebagai DDS atau Didi Diam Saja. Didi sesunguhnya sedih sekali karena tidak punya teman. Sayang sekali semakin ia sedih semakin sedikit ia bergaul dengan teman-temannya dan tentu saja akibatnya ia makin kehilangan teman.

Suatu hari ketika ia sedang sangat sedih karena sering dipanggil DDS, paman Wira, adik ibu Didi yang paling kecil datang menghampirinya dan berkata:”Halo Didi, anak hebat sedang melamun apa..? Didi sangat terkejut dan tidak dapat menyembunyikan kesedihan hatinya karena memang wajahnya tampak murung sekali. Paman Wira adalah seorang yang baik dan pandai bergaul sehingga dengan segera menghibur Didi. Ia berkata:”Waktu aku kecil seperti engkau, aku juga sangat pemalu Di..” Paman Wira menatap wajah Didi sambil memegang pundak Didi kemudian ia melanjutkan:”Namun ketika paman beranjak dewasa paman menemukan sebuah rahasia besar yaitu rahasia bagaimana menjadi gembira dan mendapatkan banyak teman..”

Wajah Didi sekarang mulai gembira, ia merasa ada harapan. Paman Wira kemudian melanjutkan:”Karena paman punya begitu banyak teman maka pada tahun ini paman terpilih sebagai Wiraniaga Yang Paling Hebat, ya paman berhasil menjadi penjual mobil paling banyak di seluruh Indonesia..” Didi makin bersemangat dan mengagumi paman Wira yang memang hebat dan baik hati itu. Paman Wira kemudian mendekatkan wajahnya, sambil berbisik dan  merangkul Didi ia berkata:”Di maukan paman ajarkan rahasia-rahasia itu, kalau Didi melakukannya maka Didi suatu kali akan menjadi orang yang lebih hebat dari paman, mau kan Di..? Didi tentu saja mau sekali ia mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali.

Paman Wira kemudian membuka dompetnya, ia kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama miliknya. Kartu nama milik paman Wira sangat menarik, karena terdapat foto paman Wira yang sedang tersenyum. Paman Wira menjelaskan:”Di, pada kartu nama ini terdapat rahasia itu, coba lihat pada kartu nama ini terdapat 3 hal penting, pertama ada gambar wajah paman yang sedang tersenyum, kedua ada nama paman dan ketiga ada tulisan Wiraniaga Otomotif Paling Hebat..” Paman Wira melanjutkan:”Di, rahasia yang pertama mempunyai banyak teman adalah memberikan seyum kepada teman-teman, kedua panggil namanya dan ketiga puji dia, kalau paman ringkas itu jadi SPP atau Senyum, Panggil Namanya dan Puji dia, gampang kan? Sambil tersenyum paman Wira menekankan kembali:”Coba hafalkan sekarang SPP, SPP, SPP, senyum, panggil nama dan puji...”     

Didi rupanya sudah bosan diejek teman-temannya sehingga dengan penuh semangat ia berusaha melaksanakan rumus SPP dari Paman Wira, cita-citanya ia ingin menjadi seorang yang hebat seperti paman Wira. Setiap Didi tiba di sekolah ia berusaha terseyum kepada setiap teman atau guru yang ia temui. Tidak selalu Didi berhasil, sering juga ia lupa tapi syukurlah paman Wira kerap menelpon untuk mengingatkan dan memberi semangat. Ia berkata:”Hayo Di, kamu pasti bisa..”.  Selain belajar tersenyum Didi juga belajar untuk menyapa teman-temannya lebih dulu dengan ramah misalnya memanggil: “Hai Toni, hai Daru, hai Robert” tentunya sambil memberikan seyum.

Setelah belajar memberi salam dan memanggil nama teman paman Wira mendorong Didi untuk memperhatikan hal-hal menarik yang ia lihat dalam diri teman-temannya lalu memberikan pujian yang tulus. Dengan penuh perjuangan Didi berusaha melakukannya, paman Wira juga tidak henti memberi semangat. Setelah sekian lama Didi mulai biasa berkata :”Robert sepeda kamu koq keren banget...” Ketika bertemu Rosa, Didi juga bisa berkata:” Selamat ya kamu mendapat nilai matematika tertinggi...” Kepada Simon, Didi berkata:”Simon, kamu memang pandai main sepak bola..” Ketika Didi bertemu mbak Ning yang biasa membersihkan kelas ia juga mampu berkata:”Mbak Ning terima kasih ya, kelas ku selalu bersih...”

Dorongan paman Wira memang sangat berarti untuk Didi karena Didi telah berhasil menjadi seorang anak yang pandai bergaul. Perubahan Didi membuat kawan-kawannya menyenangi Didi dan tentu saja Didi tidak pernah kekurangan teman. Ayah dan ibu Didi merasa senang, ibu dan bapa guru juga bangga melihat Didi yang makin ceria, paman Wira tentu juga merasa gembira dan yang paling bahagia tentu Didi sendiri. Sekarang kalau Didi ditanya apa cita-citanya maka dengan cepat ia akan menjawab:”Menjadi wiraniaga yang paling hebat dan lebih hebat dari paman Wira...” Paman Wira tertawa senang mendengar tekad Didi dan dengan mengacungkan jempolnya ia berkata:”Didi, kamu pasti bisa,,,”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar